Dapur MBG Pondok Kelapa Disetop, 72 Siswa Diduga Keracunan Makanan

Minggu, 5 April 2026

JEJAKHUKUMNUSANTARA.COM, Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa, Jakarta Timur, menyusul dugaan kasus keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa sekolah dasar. Keputusan ini diambil setelah ditemukan sejumlah pelanggaran standar dalam fasilitas dapur dan pengelolaan limbah.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa penghentian operasional dilakukan tanpa batas waktu hingga seluruh standar terpenuhi.

“SPPG Pondok Kelapa kami suspend untuk waktu yang tidak terbatas karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), masih belum memenuhi standar,” ujarnya dalam keterangan pers, Sabtu (4/4/2026).

SPPG Pondok Kelapa diketahui merupakan penyedia menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk untuk 72 siswa SD di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur, yang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan pada Kamis (2/4/2026).

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, dugaan sementara penyebab insiden berkaitan dengan kualitas makanan yang tidak lagi segar saat dikonsumsi. Faktor waktu antara proses memasak dan penyajian disebut menjadi salah satu pemicu utama.

“Jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi berpotensi menurunkan kualitas makanan dan memicu gangguan kesehatan,” jelas Nanik.

BGN juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut dan memastikan akan memperketat pengawasan terhadap seluruh penyedia layanan MBG di berbagai daerah. Langkah ini dinilai penting untuk menjamin keamanan pangan sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap program tersebut.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa para siswa yang terdampak diduga mengonsumsi makanan dari dapur SPPG Pondok Kelapa 2.

“Makanan yang disiapkan oleh SPPG di lokasi Pondok Kelapa 2,” ujar Pramono usai menjenguk korban di RSKD Duren Sawit.

Menu yang disajikan saat itu meliputi spageti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, serta buah stroberi. Dari hasil pemantauan awal, spageti disebut sebagai salah satu menu yang paling kuat diduga menjadi sumber masalah.

“Saya tadi sudah melihat sebagian besar korban terdampak memang diduga dari makanan spagetinya,” tambahnya.

Setelah mengonsumsi makanan tersebut, para siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, diare, demam, hingga nyeri perut. Sebagian siswa bahkan harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.

Kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat program MBG bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Insiden tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya standar higienitas, manajemen distribusi, dan pengawasan ketat dalam penyediaan makanan bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

BGN memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan, tidak hanya terhadap SPPG Pondok Kelapa, tetapi juga terhadap seluruh jaringan penyedia layanan MBG di Indonesia. Pemerintah berkomitmen agar kejadian serupa tidak terulang dan keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama. (*/Jhn)

banner-panjang

Baca Juga

Berita Terkait