Jalan Aspal atau Hilangnya Kepercayaan Rakyat kepada Negara?

Minggu, 2 Agustus 2026

Jejak Hukum Nusantara.com, Maluku – Hilangnya kepercayaan Rakyat kepada negara,? Pertanda bukan berarti rakyat yang menuntut kemewahan. Rakyat Negeri Wassu, Oma, dan seluruh Pantai Selatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah hanya menginginkan sesuatu yang sangat sederhana, jalan yang dapat dilalui dengan aman untuk menghubungkan mereka dengan dunia luar. Senin, 03/08/2026.

Tokoh Masyarakat Negeri Wassu, Simson Ricky Salakory, mencoba mengoreksi, melalui perjalan panjang, dengan kurung waktu selama puluhan tahun, dataran tersebut seakan hidup dalam keterisolasian. Ketika laut tenang, mereka masih dapat mengandalkan speedboat. Namun ketika musim timur datang dan ombak meninggi, aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga kehidupan sosial nyaris terhenti.

Kondisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi. Terlalu lama rakyat dipaksa hidup dengan ketidakpastian hanya karena negara belum sepenuhnya hadir.

Pembangunan Jalan Negeri Oma–Wassu–Aboru sebenarnya telah membangkitkan harapan baru. Untuk pertama kalinya, masyarakat percaya bahwa impian menikmati jalan darat akhirnya akan menjadi kenyataan. Namun harapan itu kembali runtuh ketika longsor memutus akses jalan selama hampir dua tahun tanpa penanganan yang memadai.

Yang lebih menyedihkan, rakyat akhirnya harus turun tangan sendiri. Mereka bergotong royong membersihkan material longsor dengan tenaga dan peralatan seadanya.

Mereka rela berkeringat demi membuka jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Tetapi batu-batu besar tidak mungkin dipindahkan dengan tangan kosong. Pada titik itulah rakyat seolah berkata, “Kami sudah melakukan bagian kami, sekarang kapan negara melakukan bagiannya?”

Padahal manfaat jalan ini jauh melampaui sekadar menghubungkan dua negeri. Jalan ini akan menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Biaya transportasi hasil pertanian akan menurun, distribusi barang menjadi lebih cepat, harga kebutuhan pokok menjadi lebih stabil, dan kesempatan usaha semakin terbuka.

Petani akan lebih mudah memasarkan hasil kebun mereka, nelayan memperoleh akses distribusi yang lebih baik, pelaku UMKM memiliki peluang memperluas usahanya, sementara masyarakat akan lebih mudah memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik lainnya.

Lebih jauh lagi, Pantai Selatan Pulau Haruku menyimpan potensi wisata yang luar biasa.

Keindahan pantai, kekayaan budaya, sejarah, dan keramahan masyarakat merupakan aset besar yang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Jika akses jalan terbuka, kawasan ini berpeluang menjadi destinasi wisata unggulan di Maluku yang mampu menarik wisatawan, menghidupkan usaha kuliner, penginapan, transportasi lokal, hingga ekonomi kreatif masyarakat.

Jalan ini bukan sekadar menghubungkan negeri dengan negeri, tetapi menghubungkan masyarakat dengan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera.

Karena itu, persoalan ini bukan lagi soal aspal. Ini adalah soal keadilan pembangunan.

Konstitusi menjamin bahwa setiap warga negara berhak memperoleh perlakuan yang sama dalam pembangunan. Tidak boleh ada wilayah yang terus-menerus tertinggal hanya karena letak geografisnya.

Negara harus membuktikan bahwa keadilan pembangunan tidak berhenti di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau negeri-negeri kecil yang selama ini setia menunggu perhatian.

Dalam hitungan hari, Indonesia akan memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat mendasar, apakah rakyat Negeri Wassu akhirnya akan ikut merasakan makna kemerdekaan melalui terbukanya akses jalan yang telah mereka perjuangkan selama puluhan tahun? Ataukah kemerdekaan kembali hanya menjadi seremoni tahunan, sementara rakyat tetap hidup dalam keterisolasian?

“Sejatinya, apalah arti sebuah kemerdekaan,”?

Kini rakyat tidak membutuhkan pidato. Mereka membutuhkan alat berat. Mereka tidak membutuhkan janji baru. Mereka membutuhkan tindakan nyata serta prhatian serius.

Jangan biarkan rakyat kehilangan keyakinan bahwa negara hadir untuk melindungi dan melayani seluruh warganya. Jangan jadikan masyarakat hanya penting ketika musim kampanye tiba, lalu dilupakan setelah suara rakyat berhasil diraih.

Hari ini, rakyat Pantai Selatan Pulau Haruku masih menunggu.

Mereka menunggu keputusan.
Mereka menunggu keberpihakan.
Mereka menunggu keadilan.

Dan sejarah akan mencatat, apakah pemerintah memilih menjawab suara hati rakyat atau membiarkan harapan itu kembali terkubur bersama material longsor yang hingga hari ini belum juga disingkirkan.

Sebab sesungguhnya, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya sebuah ruas jalan. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan rakyat kepada negara. Ketika negara hadir melalui pembangunan yang adil, kepercayaan itu akan tumbuh.

Namun ketika rakyat terus dibiarkan menunggu tanpa kepastian, maka perlahan kepercayaan itu akan memudar. Negara masih memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa kemerdekaan benar-benar dirasakan hingga ke Negeri Wassu. Kini saatnya menjawab harapan itu dengan tindakan, bukan sekadar kata-kata.(JHN).

banner-panjang

Baca Juga

Berita Terkait