JEJAKHUKUMNUSANTARA.COM- Ketegangan global kembali memuncak. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ultimatum keras kepada Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau bersiap menghadapi serangan yang dapat melumpuhkan jantung energi negara itu. Pernyataan ini bukan sekadar retorika diplomatik ini adalah ancaman langsung yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui platform Truth Social, Trump menegaskan sikap tanpa kompromi. Ia menyebut, jika Iran tidak membuka sepenuhnya Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu yang ditentukan, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
Ultimatum ini datang di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, khususnya di jalur vital Selat Hormuz—sebuah perairan sempit yang menjadi jalur utama sekitar sepertiga pasokan minyak dunia. Penutupan selat tersebut oleh Iran tidak hanya berdampak pada negara-negara Teluk, tetapi juga berpotensi memicu krisis energi global yang dahsyat.
Bagi Iran, ancaman ini menyentuh titik paling sensitif: infrastruktur energi. Serangan terhadap pembangkit listrik tidak hanya melumpuhkan ekonomi, tetapi juga dapat memicu krisis kemanusiaan, dengan jutaan warga berisiko kehilangan akses listrik, air bersih, dan layanan vital lainnya.
Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa langkah Trump ini merupakan eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir antara Washington dan Teheran. Sebelumnya, ketegangan hanya terbatas pada sanksi ekonomi dan insiden militer terbatas. Namun kini, dunia dihadapkan pada kemungkinan konflik terbuka yang bisa melibatkan kekuatan militer besar.
Di sisi lain, Iran belum memberikan respons resmi terhadap ultimatum tersebut. Namun sejumlah analis memperingatkan bahwa Teheran kemungkinan tidak akan tunduk begitu saja. Selat Hormuz selama ini menjadi kartu strategis Iran dalam menghadapi tekanan Barat—alat tawar yang bisa mengguncang pasar global dalam hitungan jam.
Pasar energi dunia pun mulai bereaksi. Harga minyak dilaporkan bergerak naik tajam seiring kekhawatiran akan terganggunya suplai global. Negara-negara importir energi besar di Asia dan Eropa kini berada dalam posisi siaga, memantau perkembangan situasi yang bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
Di tengah situasi yang semakin memanas, dunia kini menunggu: apakah Iran akan membuka Selat Hormuz dan meredakan ketegangan, atau memilih bertahan dan menghadapi konsekuensi yang bisa memicu konflik besar?
Satu hal yang pasti, 48 jam ke depan bukan sekadar hitungan waktu, ini adalah detik-detik penentu yang bisa mengubah arah geopolitik global. (*)