CATATAN CINTA DIANTARA TAHTA. PESONA RATU HARISBAYA SUMEDANG LARANG

Selasa, 28 Desember 2021

Ratu Harisbaya

Pesona Ratu Harisbaya, Pemicu Perang Dahsyat Kerajaan Cirebon Melawan Sumedang.

Setelah menempuh perjalanan berhari-hari dari Kraton Pajang (wilayah di dekat Surakarta), Prabu Geusan Ulun dan pengawalnya akhirnya memasuki wilayah Kerajaan Cirebon.

Seperti yang sudah diniatkan sebelumnya, dia berniat untuk mampir di kerajaan tersebut sebelum melanjutkan pulang ke Kerajaan Sumedang Larang.
Selain karena memang sudah cukup lelah, hubungan antara kerajaan yang dia pimpin dengan Cirebon sudah terjalin cukup baik.
Jadi kedatangannya sekaligus untuk menjaga hubungan baik tersebut.
Rombongan raja itu pun disambut dengan baik oleh Panembahan Ratu, penguasa Kerajaan Cirebon.

Pada saat itulah Prabu Geusan Ulun tiba-tiba berdesir hatinya ketika melihat seorang wanita yang berdiri di samping Panembahan Ratu.
Pesona Ratu Harisbaya,
Membuat Geusan Ulun “Harisbaya,” bisiknya pelan dengan dada berdebar-debar.
Ditatapnya sejenak wanita tersebut. Harisbaya sekali-kali menatap Geusan Ulun tetapi segera menundukkan kepalanya.
Pertemuan singkat itu benar-benar membuat Geusan Ulun masuk dalam situasi gelisah.
Ingatannya terseret ke beberapa tahun silam ketika dia masih menjadi pangeran mahkota dia dikirim oleh Ayahandanya Pangeran Santri untuk nyantri atau belajar di Pajang.
Saat itu, Pajang sebagai penerus Demak memang menjadi pusat Islam di Jawa termasuk juga pusat pendidikan.
Di Pajang inilah dia bertemu gadis ningrat keturunan Mataram.
Dia adalah Harisabaya.
Cintapun bersemi dan keduanya terlibat dalam kisah asmara.

Tetapi sejarah menghendaki akhir yang tidak begitu menyenangkan.
Prabu Geusan Ulun yang juga bergelar Angkawijaya  itu kemudian ditarik pulang setelah lima tahun di Pajang.
Hubungan cinta dengan Harisabaya pun kandas di tengah jalan.
Bahkan Harisabaya kemudian dinikahkan oleh Sultan Hadiwijaya, penguasa Pajang dengan Panembahan Ratu yang juga menantunya. Maka Harisabaya kemudian menjadi istri kedua dari penguasa Cirebon tersebut.
Di ruang yang berbeda, Ratu Harisbaya juga merasakan kegelisahan luar biasa.

Tidak bisa dipungkiri Angkawijaya adalah cinta pertamanya.

Pertemuan hari itu benar-benar membuat dia tak kuasa menahan rasa.
Beberapa hari tinggal di Cirebon, Prabu Geusan Ulun dan Harisbaya juga beberapa kali bertemu dan berbicara.
Cinta lama tak bisa ditahan kembali.
Keduanya sepakat untuk menempuh segala risiko.
Harisbaya ingin pergi bersama sang mantan. Geusan Ulun pun tidak kuasa menolak.

Maka dengan strategi yang telah disusun, Geusan Ulun kemudian berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke Sumedang Larang.
Tentu saja, diam-diam Harisbaya telah ada dalam rombongan tersebut.
Beberapa saat setelah kepergian Geusan Ulun, Kraton Cirebon pun gempar karena Harisbaya tidak ada di temukan.
Pencarian sekian lama akhirnya ditemukan bukti bahwa istri kedua Panembahan Ratu itu telah ikut dengan Geusan Ulun. Murka tiada tara  sang Panembahan Ratu.
Akbat Pesona Ratu Harisbaya, Pemicu Perang Dahsyat Kerajaan Cirebon Melawan Sumedang.

Panembahan Ratu segera memerintahkan panglima perangnya untuk menyusun kekuatan.
Setelah semuanya siap sebanyak 2.000 pasukan kemudian bergerak ke Sumedang Larang untuk menggempur kerajaan kecil yang sejak 50 tahun terakhir telah menjadi sekutu tersebut.
Geusan Ulun tidak menyerah, Pertempuran empat hari pecah di perbatasan kedua kerajaan.

Korban berjatuhan begitu besar sementara tidak ada yang menang ataupun kalah.

angkah damai pun diambil.
Panembahan Ratu bersedia menghentikan serangan dan tidak akan meminta lagi Harisbaya tetapi dengan catatan Sumedang Larang harus menyerahkan sebagian wilayah perbatasan kepada Cirebon.

Setelah melakukan beberapa perundingan antar kedua kerajaan Islam Sunda ini, dan Panembahan ratu mengetahui jika Harisbaya lah yang meminta dilarikan.

Maka untuk kemudian Panembahan Ratu mencerai kan Harisbaya, akan tetapi imbalan dari talaq yang dijatuhkan panembahan Ratu itu harus ditebus oleh Sumedang dengan menyerahkan wilayah Sindangkasih (Kini Kabupaten Majalengka) kedalam kekuasaan Kerajaan Cirebon,

Sumedang kemudian menyanggupi.
Untuk mengakhiri peperangan dan permusuhan dengan Cirebon, Geusun Ulun kemudian berjanji bahwa anak Panembahan Ratu yang masih dalam kandungan Harisbaya nantinya akan dijadikan Raja Sumedang setelah sepeninggalnya.

Mendapati keputusan perundingan yang menguntungkan Cirebon itu, maka untuk selanjutnya permusuhan antara kedua Kerajaan Sunda ini kemudian resmi berakhir. Sementara itu, untuk menghindari konflik dengan keluarganya, Geusun Ulun kemudian membagi-bagikan waris kepada anak-anak dari istrinya yang lain berupa pembagian wilayah dan jabatan Adipati di seluruh wilayah kerajaan Sumedang Larang.

Sejumlah catatan menunjukkan wilayah yang diserahkan tersebut adalah Majalengka saat ini.
Akhir mahal dari perang yang terjadi akibat cinta lama bersemi kembali (CLBK)
Sumedang Larang merupakan kerajaan kecil yang ada di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran.
Prabu Geusan Ulun meneruskan kekuasaan ayahnya Panembahan Santri .
Geusan Ulun berkuasa antara tahun 1568-1649.
Pajajaran hancur di masa Sumedang dibawah kekuasaan Geusan Ulun yang selanjutnya menyatakan Sumedang Larang sebagai penerus dari Pakuan Pajajaran.
Setelah peristiwa itu, Geusun Ulun kemudian hidup bahagia dengan kekasih hatinya.

Geusan Ulun wafat pada 1610 dan takhta diserahkan kepada Raden Suriadiwangsa yang merupakan anak Harisbaya dengan Panembahan Ratu.

Sementara untuk menghindari konflik sebelum meninggal  Geusan Ulun telah menyerahkan sebagian wilayah Sumedang kepada anaknya. Raden Rangga Gede.
Pada era pemerintahan Prabu Suriadiwangsa Sumedang Larang kemudian memutuskan untuk melebur dengan Kesultanan Mataram Islam yang dipimpin Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Ini adalah langkah politik agar kerajaannya mendapat bantuan untuk melawan Banten. (PSF)

Sumber:

wikipedia

historyofcirebon

cipakudarmaraja.

*BERBAGAI SUMBER

banner-panjang

Baca Juga

Berita Terkait